| Imunisasi Vaksin DPT, Posyandu Bougenville II, Bekasi (Dok. Pribadi/Miftah Dwi Kharunia) |
HALUAN WARTA - Laksana wujud peran serta
masyarakat dalam pelayanan kesehatan, Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dituntut
untuk lebih responsif dan efektif dalam mengatasi berbagai permasalahan
kesehatan masyarakat. Tidak hanya pelayanan kepada balita, ibu hamil, dan ibu
menyusui, melainkan remaja dan lansia juga menjadi sasaran strategis lainnya.
Posyandu merupakan
kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh, dan untuk masyarakat
yang dibantu oleh petugas kesehatan. Hal ini juga didasari oleh upaya pemerintah untuk memudahkan
masyarakat dalam memperoleh kesehatan ibu dan anak.
Konsep Posyandu berkaitan
erat dengan keterpaduan. Keterpaduan yang dimaksud meliputi aspek sasaran,
aspek lokasi kegiatan, aspek petugas penyelenggara, aspek dana, dan lain
sebagainya.
Dahulu, Posyandu
dikembangkan atas prakarsa Presiden Soeharto pada tahun 1984. Setiap bulannya,
rakyat berbondong-bondong mendatangi Posyandu yang dikelola berbasiskan
komunitas.
Mengutip dari Departemen Kesehatan, tujuan diselenggarakan Posyandu adalah untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak balita, dan angka kelahiran; untuk mempercepat penerimaan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera); dan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan kesehatan dan lainnya yang menunjang sesuai dengan kebutuhan.
Sapta Krida Posyandu
Pada harusnya, Posyandu
memiliki tujuh kegiatan
utama yang dikenal dengan istilah ‘Sapta Krida Posyandu’. Namun, hal ini
kembali dari kesiapan masing-masing wilayah. Untuk mengetahui hal tersebut,
pertama adanya kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Upaya kesehatan Ibu dan
Anak ini menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu
nifas, bayi dan anak balita, anak prasekolah, serta pelayanan KB dan kesehatan
reproduksi.
Kedua, adanya kegiatan
Keluarga Berencana (KB), merupakan upaya mengatur kelahiran anak, jarak, dan
usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan
bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang
berkualitas. Hal lainnya mempromosikan penyusuan bayi sebagai upaya
menjarangkan jarak kehamilan.
Ketiga, adanya kegiatan
Imunisasi, merupakan upaya memberi kekebalan kepada bayi dan anak dengan memasukkan
vaksin ke dalam tubuh untuk membuat zat anti sebagai pencegahan penyakit
tertentu. Keempat, adanya kegiatan Peningkatan Gizi, meliputi pengukuran berat
dan tinggi badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, dan
pemberian suplemen.
Kelima, adanya kegiatan Penanggulangan
Diare, di mana Posyandu melakukan penyuluhan untuk selalu menjaga kebersihan
diri dan makanan. Selain itu menyedikaan oralit dan melakukan rujukan pada
penderita diare yang menunjukkan tanda bahaya di Puskesmas.
Keenam, adanya kegiatan Sanitasi Dasar, yaitu meliputi upaya penyediaan air bersih, jamban sehat, pengelolaan sampah, dan saluran pembuangan air limbah. Ketujuh, adanya kegiatan Penyediaan Obat Esensial, merupakan penyediaan obat terpilih paling dibutuhkan yang mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi, dan rehabilitasi.
Modernisasi Posyandu
Seiring kemajuan zaman
dan teknologi, Posyandu dituntut untuk dapat lebih aktif seperti melakukan
surveilans berbasis masyarakat, yaitu pengamatan dan pemantauan secara terus-menerus pada
penyebab terjadinya masalah kesehatan di wilayahnya.
Hal ini membuat Posyandu
perlu berbenah diri dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, agar tidak
lekang oleh zaman. Kapasitas para kader harus ditingkatkan, sarana dan
prasarana Posyandu perlu dipenuhi, serta mutu layanan perlu ditingkatkan.
Pasalnya, dengan hal
tersebut pun diperlukan peran dan dukungan pemerintah tingkat daerah (Pemda),
Puskesmas, dan tokoh masyarakat setempat kepada Posyandu, untuk memfasilitasi
dan membina pelaksanaan berbagai kegiatan kesehatan yang dilakukan Posyandu.
Seperti Posyandu
Bougenville II di wilayah Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi. Dalam
kegiatannya, Ibu Sopiah selaku ketua Posyandu Bougenville II, menyampaikan rasa
bahagianya karena telah dibantu pihak-pihak yang bersangkutan, seperti
Puskesmas.
Selain dukungan berupa
pembinaan dan fasilitas, Sopiah juga mengeluhkan kesiapan dari masing-masing
kader Posyandu. Posyandu Bougenville II sendiri beranggotakan ibu-ibu penduduk
setempat yang sudah lanjut usia. Hal ini pun menjadi rintihan petugas
Puskesmas, karena dirasa sukar dan perlu waktu lebih dalam pembinaannya.
Dalam hal pendataan Ibu
dan Anak yang dilakukan setiap bulan dan pengoperasiannya melalui platform online
membuat kader Posyandu perlu pembinaan lebih untuk memahaminya. Petugas
Puskemas yang masih milenial tidak bisa menyamaratakan pola ingatan yang sama
dengan ibu-ibu lanjut usia.
“Harapan saya ketika
regenerasi kepengurusan Posyandu dapat diperhatikan kesiapan para kadernya.
Bukan hanya bagi yang mau saja, namun kiranya perlu diberikan tes terlebih dulu
sebelum ditentukannya kepengurusan di masa mendatang. Dan rasanya kegiatan
sosial ini perlu lebih banyak tenaga yang diberikan dari anak-anak muda setempat,”
papar Sopiah.
Pernyataan tersebut dapat
menjadi perhatian lebih bagi tokoh masyarakat, lingkungan kelurahan dan
kecamatan, sekalipun pemerintah tingkat daerah (Pemda) dalam perekrutan kader
di tiap wilayah Posyandu.
Tentunya tantangan yang dihadapi Posyandu di zaman modern ini bukan hal yang ringan. Posyandu menjadi salah satu gerakan untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia yang ditujukan sebagai Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM), sehingga tumbuh berkualitas dan mencapai kesejahteraan hidup yang maksimal.
Artikel ini lebih dulu dimuat dalam https://www.klikwarta.com/modernisasi-posyandu-untuk-capai-pelayanan-kesehatan
1 Komentar
Terima kasih Haluan Warta dan mba Miftah, keren!❤️
BalasHapus