Dok. Liputan6.com

HALUAN WARTAPagi menyambut, membuat kepulan asap keluar dari bagian becak motor (bemo) yang berfungsi meredam letupan saluran buangan gas. Bentuknya seperti pipa panjang dan mengeluarkan asap berwarna hitam pekat dari dalamnya. Begitulah Pak Sutino memanaskan kendaraan yang telah menjadi mata pencahariannya sejak tahun 1976.

Pak Sutino atau yang kerap disapa Pak Kinong mengawali profesinya sebagai sopir bemo di Jakarta, khususnya di sekitar rumahnya daerah Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kendaraan bermotor roda tiga ini melukiskan perjalanan Pak Kinong untuk menafkahi keluarganya.

“Dulu saya cuma sopir bemo biasa, keliling Jakarta. Tapi  biasa mangkalnya di kolong flyover Karet (Karet Tengsin) sama temen-temen di sana,” ungkap Pak Kinong.

Kemudian pada tahun 2010, dua orang sahabat Pak Kinong yang merupakan dosen di Universitas Tarumanegara, yakni Arief Adityawan dan Enrico Halim, datang menemui dan memberi tawaran membeli bemo Pak Kinong serta menjadikannya kegiatan sosial yang diberi nama ‘Netling’ atau ‘Internet Keliling’.

“Saya mau beli bemo kamu, tapi nanti kamu yang operasikan untuk jual internet keliling ya,” kata salah satu sahabatnya.

Masa itu memang internet terbilang susah untuk diakses masyarakat, terlebih harganya yang tidak murah. Hal tersebut diperuntukkan menjadi wadah memperkenalkan internet kepada warga sekitar. Namun, usia Pak Kinong yang tak lagi muda dan kurangnya pemahaman untuk mengoperasikan internet membuat Ia menolak tawaran tersebut.

Tidak berhenti di situ, kedua sahabatnya pun meminta saran dari Imam Prasodjo, seorang sosiolog Universitas Indonesia yang juga merupakan saudara dari salah satu dosen Universitas Tarumanegara tersebut.

Imam Prasodjo menyarankan, bemo tua milik Pak Kinong diubah menjadi perpustakaan. Pak Kinong pun menyetujui dan merasa ide tersebut masih mampu dijalani, karena hanya melayani anak-anak membaca serta melakukan peminjaman buku.

Meski tidak lulus Sekolah Dasar (SD), Pak Kinong bertekad membuat anak-anak Indonesia gemar membaca. Alasan itu didorong karena melihat anak-anak di sekitar rumahnya lahir dari keluarga yang tidak berkecukupan dan dirasa sulit dalam mengenyam pendidikan yang layak.

Pak Kinong berjanji untuk membantu sesama agar terhindar dari kebodohan meski memiliki keterbatasan. Niat kecilnya adalah bagaimana caranya orang-orang kecil seperti dirinya dapat mengakses ilmu atau pengetahuan dengan mudah.

Sejak menyetujui ide bemo baca, kemudian Pak Kinong menyulap bemonya yang berwarna biru menjadi ungu-oranye. Warnanya cantik dan mencuri perhatian sehingga menarik minat anak-anak. Di bagian belakang kemudi yang semula untuk tempat duduk penumpang, kini dipenuhi rak-rak berisi buku bacaan.

Awalnya Pak Kinong hanya diberi subsidi buku-buku bacaan oleh dua sahabatnya. Seiring berjalannya waktu, Ia kerap mendapat bantuan buku dari orang-orang di sekitar yang memang ingin mendonasikannya untuk bemo baca Pak Kinong.

Sebelum berkeliling dengan bemo bacanya, Pak Kinong menarik penumpang setiap pukul 06.30-09.00 WIB di mana para penumpang mulai sepi. Kemudian Ia memulai perjalanan bemo bacanya setelah menarik bemo pada pukul 09.00-15.00 WIB. Setelah berkeliling, sore harinya Pak Kinong kembali menjadi sopir bemo.

“Pas pagi narik sebagai sopir bemo, saya bisa dapat Rp 100.000. Sore juga bisa dapat Rp 100.000, tapi kan penghasilan sebagai sopir bemo itu nggak nentu,” kata Pak Kinong.

Bemo baca Pak Kinong mulai berkeliling ke gang-gang sempit di kawasan Karet, Pejompongan, dan Tanah Abang. Tak hanya di sana, Pak Kinong juga berkeliling menyusuri kawasan Kota Tua hingga Jakarta Tua, serta mendatangi sekolah-sekolah seperti PAUD, TK, dan SD.

Kendaraan khas dengan kepulan asap knalpot yang tebal itu menampilkan perpustakaan mini di sisi kanan, dan warung jajanan di sisi kiri. Untuk jajanan, istrinya yang menyiapkan selagi Pak Kinong mencari penumpang.

“Kalau baca buku terus takutnya mereka bosan, makanya kita sediain cemilan biar mereka betah,” kata Pak Kinong.

Tidak hanya fokus meningkatkan daya tarik anak-anak untuk membaca, Pak Kinong juga membuat beberapa kegiatan hiburan seperti mengadakan lomba lukis dan lomba menyanyi. Serta menyediakan makanan ringan agar anak-anak merasa nyaman ketika membaca buku.

Namun, melihat strata lapisan masyarakat ekonomi menengah ke bawah, Pak Kinong merasa kurang adanya ketertarikan membaca buku. Anak-anak di lingkungan tersebut enggan peduli dengan pendidikan, khususnya membaca buku, melainkan lebih fokus untuk mencari uang guna mencukupi kebutuhannya.

Darurat literasi ini membuat Pak Kinong bersikukuh meningkatkan minat baca anak-anak sedari dini. Melalui bemo baca, Pak Kinong juga merasa lebih leluasa dan tidak terikat dengan instansi apapun untuk meningkatkan minat baca anak-anak.

Kehadiran bemo baca Pak Kinong tentunya sangat dinantikan. Suatu ketika, bemo Pak Kinong mogok sampai harus didorong, dan anak-anak tetap menunggu kedatangannya meski lama. Deru mesin bemo yang dikendarai Pak Kinong seolah menyihir anak-anak layaknya panggilan pedagang keliling.

“Dengan ini, kami jadi suka membaca,” kata Dwi, anak yang tinggal di sebuah sudut miskin Jakarta.

“Aku tidak perlu lagi pergi jauh-jauh buat ke perpustakaan, karena di bemo Pak Kinong banyak pilihan bukunya,” kata Ardi, siswa SD yang berlangganan meminjam buku pada Pak Kinong.

Aksi sosial yang dilakukan Pak Kinong juga mendapat respon positif dari masyarakat sekitar. Masyarakat merasa, bemo baca sangat membantu anak-anak menjadi lebih tertarik membaca buku di tengah maraknya tren media sosial.

“Terutama kan kita menarik daya minat anak, agar mereka berminat dan suka,” ujar Pak Kinong.

Sederhana namun konsisten. Aksi sosial Pak Kinong terendus pemerintah. Pada 2015, Dinas Pariwisata DKI Jakarta membantu program tambahan untuk Pak Kinong, yakni adanya layar tancap. Film yang diputar adalah film-film Indonesia. Namun hingga 2017, layar tancapnya tidak lagi beroperasi.

“Operasionalnya lumayan mahal, hehehe,” kata Pak Kinong.

Tidak ada bayaran untuk perpustakaan keliling, program lomba lukis dan lomba menyanyi, serta layar tancap yang dilakukannya.

“Lihat anak-anak senang baca, rebutan buku saja saya senang melihatnya,” kata Pak Kinong.

Memang tidak mudah untuk menjalankan misi sosial seperti yang dilakukan Pak Kinong. Terlebih Ia harus berpikir menghidupi keluarganya, yaitu seorang istri dan tujuh orang anak. Belum lagi biaya pemeliharaan bemo yang disulapnya menjadi perpustakaan keliling dan warung jajanan.

Pernah Pak Kinong terpikir untuk mengakhiri bemo bacanya. Nyinyiran dari beberapa tetangga dan teman-temannya Ia anggap sebagai pahit getir perjalanan aksinya.

“Makanya jangan sok-sokan buat begitu (Bemo Baca), kayak pahlawan,” kata Pak Kinong sembari menirukan temannya kala Ia bercerita tentang bemonya yang sempat mogok dan tidak bisa beroperasi.

Pak Kinong tak ambil pusing mengenai ucapan temannya itu. Bagaimanapun niat tulus harus tetap dijalankan meski donatur timbul-tenggelam membantunya.

“Jalanin aja. Sayang kegiatan bagus yang dapat acungan jempol kayak gini harus berhenti,” kata Pak Kinong.

Ikhtiar Pak Kinong berbuah manis. Suatu hari saat Ia sedang berkeliling, seorang pria mengendarai motor berpesan bila ada orang Istana Negara telepon jangan ditolak.

“Saya anggap modus aja waktu itu, soalnya banyak bener yang tipu,” kata Pak Kinong.

Kecurigaannya pun sirna setelah pihak Sekretariat Negara meyakinkan bahwa dirinya diundang Presiden Jokowi ke Istana bersama pegiat literasi lainnya dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional. Bagi Pak Kinong, undangan tersebut merupakan momen bersejarah untuknya.

“Mana ada bemo masuk ke dalam Istana,” kata Pak Kinong sembari tertawa.

Presiden Jokowi pun tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap perjuangan pegiat literasi dalam mendorong minat membaca di masyarakat, seperti aksi sosial yang dilakukan Pak Kinong.

“Ini sebuah gerakan yang menurut saya sangat bagus sekali. Tidak disentuh oleh pemerintah, tetapi bergerak sendiri,” ungkap Presiden Jokowi.

Dari pertemuan yang digelar 2 Mei 2017 itu, gerakan literasi mendapatkan kado dari presiden, yaitu menggratiskan pengiriman buku setiap bulan ke setiap pelosok Indonesia melalui PT Pos Indonesia.

“Bagi saya ini sejarah, sangat membanggakan,” kata Pak Kinong.

Atas tekadnya yang besar membantu mencerdaskan anak-anak Indonesia, Pak Kinong juga sering diundang sebagai narasumber di beberapa media.

“Alhamdulilah saya juga pernah mendapat tiket umrah. InsyaAllah semua niat baik itu ada balasannya,” kata Pak Kinong.

Rutinitas Pak Kinong menjadi sopir bemo dan melakukan aksi sosial ini bertahan hingga pertengahan 2017. Sejak pemerintah melarang operasional bemo, Pak Kinong beralih profesi menjadi pedagang makanan.

“Setelah lebaran tahun 2017, saya berhenti jadi sopir bemo karena pemerintah melarang keberadaan bemo di Jakarta. Saya nggak bisa jadi sopir lagi,” kata Pak Kinong.

Ayah tujuh anak ini harus memenuhi kebutuhan keluarga setelah Ia kehilangan mata pencaharian. Pak Kinong tak lagi berkeliling mencari penumpang dan menjual makanan dengan bemo kesayangannya.

Pak Kinong hanya membuka bemo baca di depan gang rumahnya. Ia mempersilakan anak-anak membaca dan meminjam buku. Tak jarang, anak-anak baru mengembalikan buku peminjaman dua hari setelahnya.

“Saya kan udah nggak narik bemo lagi, jadi saya jualanan makanan di kolong flyover Karet dari jam tiga sore sampai jam sepuluh malam. Kalau saya keliling, uangnya juga nggak cukup, saya harus mencukupi kebutuhan keluarga juga,” kata Pak Kinong.

Pak Kinong di kediaman rumahnya (Dok. Pribadi/Miftah Dwi Kharunia)


Semenjak Covid-19 melanda dunia khususnya Indonesia, terpaksa seluruh kegiatan harus diberhentikan, terlebih profesi Pak Kinong sebagai sopir bemo dan aksi sosialnya, yakni mengoperasikan bemo baca. Usianya yang tak lagi muda membuat istri dan anak-anaknya melarang sang ayah untuk melakukan banyak kegiatan di luar rumah.

Sayangnya, Pak Kinong tak mampu menahan gejolak rindu untuk mengoperasikan bemo baca, terutama kepada anak-anak yang selalu menunggu kehadirannya di gang-gang sempit.

“Senyum dan tawa mereka yang buat saya bahagia,” ungkap Pak Kinong.

Namun tak disangka, ternyata Pak Kinong tengah mengidap sakit lambung yang membuat dirinya perlu lebih banyak waktu untuk istirahat di rumah. Selain bemo, Pak Kinong saat ini memiliki bajaj yang dimanfaatkan untuk mencari nafkah menghidupi keluarganya.

Ia memulai aktivitas menjadi sopir bajaj pada pukul 09.00-12.00 WIB, selanjutnya pulang ke rumah untuk istirahat. Jika menyanggupi, Pak Kinong kembali menunggu pelanggannya di kolong flyover Karet Tengsin pada pukul 13.00-16.00 WIB.

Mengenai bemo bacanya, Pak Kinong simpan di dekat rumah Imam Prasodjo sembari diselimuti kain terpal untuk melindungi dari cuaca panas dan hujan. Ia merasa lebih aman jika disimpan di sana, dari pada di gang rumahnya.

Sampai saat ini, istri dan anak-anaknya hanya mengizinkan Pak Kinong untuk menarik bajaj di sekitar Karet Tengsin dan Tanah Abang saja. Membiarkan sang ayah lebih banyak waktu untuk istirahat di masa tuanya.

Melalui senyuman, Pak Kinong mengatakan bahwa, “Meskipun tidak memiliki pendidikan yang lengkap, saya yakin akan selalu ada jalan bagi orang yang berbuat baik,” kata Pak Kinong.

Meski tak pernah menempuh pendidikan formal dan hidup dengan keterbatasan ekonomi, Pak Kinong tetap berusaha memberikan manfaat kepada orang lain. Ia berharap agar anak-anak Indonesia gemar membaca melalui ide sederhana dengan bemo tuanya.

Ia  juga berharap kisahnya bisa menjadi inspirasi, “Mudah-mudahan ide perpustakaan keliling akan dilanjutkan oleh generasi muda dengan kendaraan yang lebih baru,” tutupnya.