![]() |
| Sopiah saat berbincang dengan ibu muda yang hendak melakukan imunisasi balitanya di Posyandu Bougenville II, Bekasi (Dok. Pribadi/Miftah Dwi Kharunia) |
HALUAN WARTA - Kendati berstatus sebagai kader kesehatan sukarela, tidak menyurutkan semangat Sopiah bersama rekan-rekannya dalam menjalankan tugas dengan sepenuh hati dan berdedikasi. Menjadi kader tanpa pamrih, Sopiah, warga Bojong Nangka, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi ini sudah mengabdikan dirinya lebih dari 20 tahun tahun sebagai kader Posyandu.
“Saya jadi kader sejak tahun 2000, karena memang aktif di lingkungan sosial. Berangkat dari aktifitas PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), sampai sekarang menjadi kader Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu),” ungkap Sopiah saat ditemui di Posyandu Bougenville II, wilayah Bojong Nangka, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi.
Meski sudah berusia lanjut, Sopiah mengaku tidak merasa letih menjadi kader Posyandu. Dalam aktifitasnya, kegiatan Posyandu Bougenville II tidak jauh beda dari Posyandu lainnya. Imunisasi serta penimbangan berat badan bayi menjadi aktifitas rutin yang dilakukan setiap bulan.
Selain melayani bayi dan balita, seringkali Sopiah berinteraksi dengan warga soal keluhan lain yang mengancam, “Saya dan rekan-rekan kader mengadakan Posbindu PTM (Pos Binaan Terpadu Penyakit Tidak Menular) setiap bulannya, untuk monitoring dan deteksi faktor resiko PTM terintegrasi seperti penyakit jantung, diabetes, asma, kolestrol, dan banyak lagi,” kata Sopiah.
Dalam hal mencegah penyebaran DBD, tambah Sopiah, upaya efektif yang dilakukan adalah dengan pengadaan program Jumantik (Juru Pemantik Jentik) sekali seminggu, yaitu melakukan pemeriksaan, pemantauan, dan pemberantasan jentik nyamuk, khususnya Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Melihat sebagian besar warga di lingkungan Bojong Nangka, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi ini termasuk golongan menengah ke bawah, sehingga tidak banyak yang memperhatikan kesehatan. Dengan adanya Posyandu, menjadi wadah yang sangat berpengaruh dan bermanfaat bagi kesehatan setiap warganya.
Sopiah menjelaskan, “Khususnya bagi ibu muda yang ingin imunisasi bayi dan balitanya, mereka merasa keberatan bila harus pergi ke bidan atau rumah sakit. Karena sekali imunisasi akan merogoh kocek sebesar Rp 80.000 sampai Rp 150.000. Sementara kalau mereka pergi ke Posyandu akan dilayani secara gratis dengan dosis imunisasi yang sama adanya di bidan ataupun rumah sakit. Bagi lansia pun ada pelayanan Posbindu PTM, dan juga ada Jumantik rutin setiap minggunya dalam menangani penyebaran DBD.”
Setiap kegiatan itu Sopiah lakoni dengan ikhlas meski jarang mendapat upah dari pemerintah daerah, “Pernah dapat insentif di tahun 2014 sampai 2017, per tri wulannya sebesar Rp 1.200.000, itu pun dipotong dari PKK kelurahan, dipotong uang kas juga. Jadi kita kader ngga dapet seutuhnya,” papar Sopiah.
Setelah itu, tambah Sopiah, tidak lagi dapat insentif sampai tahun 2020. Kemudian yang terakhir, di pertengahan tahun 2021 kembali dapat berupa uang transportasi sebesar Rp 240.000 untuk setiap kader posyandu.
Sopiah mengatakan, “Saya pribadi ngga mengharapkan upah atau insentif, namanya juga pekerja sosial. Dapat alhamdulillah, kalau ngga dapat, yaa ngga masalah. Saya terjun di lingkungan atas kemauan sendiri. Karena tidak bisa menyumbangkan materil, seengganya bisa menyumbangkan tenaga saya dan semoga bermanfaat untuk mereka.”

0 Komentar