Dok. Istimewa

HALUAN WARTA, CERITAKU"HAHAHA, iya tuh bener!" seruku senang. Aku sedang menelepon temanku, Salsa. Kami mulai menelepon saat jam sebelas malam.

Aku milirik jam dinding di kamar kost, sudah jam satu lewat. Terkadang, gibah bagi wanita itu menyenangkan, sehingga membuat lupa waktu. Aku teringat akan mata kuliah besok pagi.

"Sal, udahan dulu ya. Aku ada matkul besok pagi, diajarnya sama Pak Zaenal pula. Kalo telat, mampus aku," ucapku. Salsa mengiyakan, seolah mengerti betapa galaknya dosenku ini.

"Yauda, dadah Salsa. Gulingku sudah mau ngajak ngapel nih," candaku. Salsa tertawa, "Hati-hati dengan ucapanmu," ledek Salsa.

Setelah mengucapkan 'dadah' berkali-kali, akhirnya sambungan telepon terputus. Aku membaringkan tubuhku di kasur dan menarik selimut hingga dada. Aku membuka ponsel, ingin bermain sebentar dengan benda pipih itu sebelum akhirnya rasa kantuk menyerang mataku.

Aku bergelung di bawah selimut, memeluk guling empuk yang menemaniku selama tingga di kost ini. Perlahan aku memejamkan mata, "mulai membuka kilas-kilas mimpi di alam bawah sadarku.

Eh?

Bau apa ini?

Aku mengendus, mencium bau pandan yang menyeruak hebat di dalam kamarku. Sejak kapan ada pandan di kamarku?