Dok. Pxfuel

HALUAN WARTA, CERITAKU - Kepergian Ayah menyisakan luka yang begitu dalam. Namun, ada seseorang yang begitu menyerupai sikap dan sifat Ayah. Tak lain orang tersebut adalah Kakak laki-laki. Bagi seorang adik, kehadiran Kakak laki-laki tak hanya sebagai saudara, tetapi juga sebagai tempat berlindung dan bermanja.

Lelaki kelahiran tahun 1993 bernama Yugo Prihandono, adalah sosok yang begitu menyerupai Ayah. Dari sifatnya, cara ia berkata, bersikap, sungguh laki-laki hebat yang mampu mengemban tanggung jawab setelah Ayah tiada.

Awalnya memang sulit menerima segala sesuatu yang telah pergi dan tak mungkin kembali, namun sosok Ayah kembali hadir dalam diri Kakak laki-laki.

Kakak sangat bertanggung jawab terhadap keperluan diriku serta Ibu. Dengan tegasnya, Ia mendidik adiknya untuk menjadi seseorang yang tak putus asa, mandiri, serta bertanggung jawab dalam setiap hal yang dilakukan.

Teringat saat kecil, mungkin tak sekali-dua kali berdiri di balik punggungmu ketika ada anak lain yang usil padaku. Kemudian dirimu yang akan membela habis-habisan dan berkata, "Bilang saja kalau ada yang ganggu kamu lagi."

Selain itu, sebagai anak perempuan yang mempunyai Kakak laki-laki, aku pernah merasakan dapat pakaian gombrong warisan darimu. Pada akhirnya juga terbiasa bersamamu menonton kartun Ben10 dan Naruto kemudian ikut menyukainya.

Kegiatan rutin olahraga bulu tangkis setiap pekan bersama Ayah pun masih terus dilakukan. Bukan lagi Ayah yang mengajariku, karena nyatanya Kakak tak kalah hebatnya dengan Ayah.

Ketika mulai bersekolah, Kakak akan selalu bersedia mengantarku lebih dulu ke sekolah walau sambil merutuk di perjalanan. Karena akibat itu, Ia selalu telat datang ke tempat kerjanya.

Memang Kakak tergolong masih muda, namun jiwa seorang Ayah begitu melekat pada dirinya. Dalam keadaan sedih, dirimu pun selalu memberikan pelukan hangat dan motivasi yang membangkitkan untukku.

Ketika aku beranjak remaja dan mengenal cinta, mungkin dirimu telah memperhatikan siapa gebetanku dan menilainya diam-diam, sebab khawatir adiknya akan terluka. Pernah larut malam dirimu pergoki aku ketika masih melakukan chatting-an dengan teman laki-laki. Dirimu marah dan menyita ponselku seharian.

Dari kejadian itu, sering kali dirimu mengikutiku ke mana-mana. Terkadang mengobrak-abrik kamar yang sudah tertata, sekadar usil mencari dan mengintip kiriman surat cinta dari teman lelakiku.

Setelah kepergian Ayah, dirimu pun menggantikan Ayah sebagai tulang punggung keluarga. Kakak yang menanggung kebutuhan sekolahku. Tak jarang dalam membutuhkan uang, dengan cepat Kakak mengirimkan uang kepadaku dan Ibu.

Namun seiring berjalannya waktu, hidupmu bukan lagi tentangku dan Ibu saja. Melainkan jauh di luar sana dirimu tengah mencari pasangan untuk membersamai kelanjutan hidupmu kelak.

Senang rasanya ketika aku mendapat kabar bahwa dirimu segera menikah. Walaupun sedikit rasa cemas hadir ketika tidak akan ada lagi banyak waktu yang kulakukan bersamamu nanti.

Ketika hari bahagiamu tiba, air mata bahagia mengalir begitu deras dari pelupuk mataku. Melihatmu di panggung pelaminan memakai jas dengan wajah sumringah, tak hentinya aku mengucap syukur karena terbawa perasaan haru.

Kini tak lagi banyak waktu dapat kuhabiskan bersamamu. Rasanya diriku selalu takut kehilangan sosok yang senantiasa melindungi sedari kecil, dan beranggapan jika dirimu akan melupakanku.

Namun, rasa cemasku kalah ketika ingat pesanmu untuk selalu percaya bahwa hadirku di dunia tidak sedniri. Dirimu juga berjanji akan selalu menjaga dan memperhatikan walau dari jarak yang jauh.

Sampai saat ini, ucapanmu bukan hanya sebagai penenang, karena hal itu selalu dirimu tunjukkan. Bahkan sadar, terkadang bosan rasanya aku harus memberi laporan setiap kali hendak ke mana dan bersama siapa akan pergi.

Dalam usiaku yang menginjak 20 tahun, dirimu beranggapan aku masih menjadi perempuan kecil dan cengeng yang belum cukup berani untuk menjajahi hebat dan kerasnya dunia luar. Padahal jauh di luar sana, sebenarnya aku sudah banyak mengeksplor hal baru tanpa dirimu ketahui.

Kata-katamu yang selalu berpesan untuk menjadi perempuan mandiri dan tanggung selalu melekat dan kupraktikkan pada jalan kehidupan. Setelah Ibu, dirimu adalah bagian dari penyemangat hidupku.

Dalam diam, dirimu juga tunjukkan bagaimana laki-laki seharusnya bersikap. Ketegasanmu mengungkapkan apa yang ada di pikiran, sungguh membuatku tak ada alasan untuk merasa tak percaya kemampuan.

Dan munafik rasanya ketika aku menulis ini tanpa melibatkan rasa rindu kepadamu. Menggantikan Ayah untuk menceritakan hal unik sebagai pengantar tidurku, juga tak pernah terlewatkan pelukan hangat itu dilepas.

Bagaimana sulitnya aku mendapat pengganti baru selain Ayah dand irimu. Jika dirimu saja yang mengerti banyak kelemahanku dan mendorong untuk selalu memaksimalkan kelebihanku. Terima kasih telah dilahirkan sebagai Kakak laki-laki yang luar biasa bagiku.